Langsung ke konten utama

BAPAK KEDOKTERAN DUNIA : IBNU SINA

Kehidupan Awal Ibnu Sina

Di dunia kedokteran, sudah tidak asing lagi dengan seorang ilmuwan Islam yang menjadi perintis ilmu kedokteran. Di masa sekarang, julukan Bapak para dokter telah melekat pada Ibnu Sina. Beliau dikenal dengan berbagai sebutan nama, yakni: Ibn Sina, Abu ‘Ali al-Husain ibn Sina, Avicenna dan di Barat lebih populer dengan sebutan Ibnu Sina. Beliau lahir  pada tahun 980 M di Afshana dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan) dengan nama lengkap Abu ‘Ali al-Husain bin Abdullah (Basori, 2018). Ayahnya (Abdullah) berasal dari kota Balkh dan bekerja sebagai kepala desa dekat Bukhara. Ibunya bernama Sitara. Abdullah menyadari bahwa putranya adalah anak ajaib dan sangat ingin mendapatkan guru terbaik untuk putranya yang jenius (Amr dan Tbakhi, 2007).Pada usia lima tahun Beliau telah mulai belajar menghafal  Al-Qur‘an, hingga pada usia 10 tahun Ibnu Sina telah menguasai ilmu tasawuf, fikih, tafsir, dan ushuluddin. Pada usia 13 tahun, Ibnu Sina mulai menekuni filsafat, politik, dan kedokteran hingga berusia 16 tahun. Pada usia tersebut juga Ibnu Sina mulai merawat pasien, hingga sekitar 1,5 tahun Beliau telah dikenal sebagai seorang filsuf dan dokter di Bukhara.

Gambar 1 : Ibnu Sina

Ketika Ibnu Sina berusia 16 tahun, seorang Sultan Bukhara jatuh sakit dimana sakitnya sang sultan tersebut membingungkan para tabib. Ibnu Sina dipanggil dan merawat Sultan Bukhara hingga sembuh. Sebagai tanda terima kasih sang Sultan, Ibnu Sina kemudian diizinkan menggunakan perpustakaan kerajaan Samanid (819-999). Melalui perpustakaan inilah, Ibnu Sina belajar banyak mengenai ilmu pengetahuan dan filsafat. (Avicenna | Biography, Books, & Facts | Britannica, no date). Di usia 18 tahun, Ibnu Sina menjadi dokter yang masyhur. Beliau menganggap bahwa kedokteran bukanlah ilmu yang sulit seperti matematika dan metafisika ( Amr danTbakhi, 2007).

Pada Usia 21 Ibnu Sina memulai karir menulisnya. Terdapat 240-an judul tulisan berbagai bidang seperti: matematika, geometri, astronomi, fisika, metafisika, filologi, musik, serta puisi. Pada masa tersebut, terjadi konflik politik dan agama yang membuat Ibnu Sina terisolasi. Dari sinilah, Ibnu Sina dapat menyelesaikan kitabnya; Kitāb Al-Shifā’, Kitāb Al-Najāt, dan menyusun tabel astronomi baru yang lebih akurat.

Ilmu Kedokteran dan Ibnu Sina

Meniti karir sebagai dokter di usia 18 tahun dan sebagai penulis pada usia 21 menghantarkan karya-karya pemikiran Ibnu Sina dikagumi seluruh dunia. Karya-karya Ibnu Sina menyajikan pemahaman matematika, fisika, kimia, kedokteran, astronomi, metafisika hingga ilmu-ilmu praktis seperti: ekonomi, politik, filsafat dan etika, menjadi mudah dibaca dan dipahami.

Salah satu karya termasyhur Ibnu Sina dalam bidang kedokteran ialah kitabnya al-Qanun fi al-Thibb (Kanun Kedokteran). Kitab karangan Beliau ini  menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan dunia. Dasar-dasar kedokteran, merupakan ensiklopedia tentang segala hal dari penanganan penyakit. Kitab ini adalah karya paling berpengaruh dalam sejarah kedokteran di dunia. Itu mengapa Ibnu Sina menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran dunia (Muannatsy,2007).

Sekitar setengah juta kata yang terkandung dalam Kitab al-Qanun fi al-Thibb, kitab yang berjilid-jilid ini membahas pengetahuan ilmu kedokteran dari zaman kuno hingga sampai saat itu. Menggunakan pendekatan yang komperhensif serta sistematis memjadikan kitab karya Beliau berperan utama bagi para dokter yang berbahasa Arab dan Farsi, begitu diterjemahkan ke bahasa Latin, kitab ini menjadi salah satu buku pelajaran standar di Eropa selama enam abad dengan sekitar 60 edisi diterbitkan antara tahun 1500 dan 1674, menurut ahli sejarah Nancy Siraisi. Di samping telah menyatukan berbagai macam pengetahuan, Kanun juga berisi banyak pandangan Ibnu Sina sendiri. Contohnya, Beliau menemukan bahwa tuberkulosis menular;bahwa penyakit dapat menyebar melalui tanah dan air;dan emosi seseorang dapat mempengaruhi kesehatan. Ibnu Sina juga menyadari bahwa saraf dapat menyalurkan rasa sakit dan sinyal kontraksi otot. Dalam Kanun juga dilengkapi deskripsi 760 macam obat-obatan (Masood, 2009). Ibnu Sina juga menulis “al-adwiyat al-Qalbia” yang berisi obat cardio (Nasser, Tibi and Savage-Smith, 2009).

Ibnu Sina mempraktikkan pengobatan dokter Yunani Hippocrates untuk kelainan bentuk tulang belakang dengan teknik reduksi. Pengurangan melibatkan penggunaan tekanan dan traksi untuk meluruskan atau memperbaiki kelainan bentuk tulang dan sendi seperti kelengkungan tulang belakang (Avicenna | Biography, Books, & Facts | Britannica, no date).

Gambar 2 : Teknik Reduksi Ibnu Sina
Sumber:britannica.com/Avicenna

Gambar 3 : Teknik Reduksi Ibnu Sina
Sumber:britannica.com/Avicenna

Kehebatan Ibnu Sina yang lain dalam dunia kedokteran meliputi: 
  1. Saran Avicenna tentang anggur sebagai pembalut luka umumnya digunakan di Eropa abad pertengahan
  2. Penyakit Antraks
  3. Hubungan antara rasa manis urin dengan diabetes
  4. Menggambarkan cacing guinea.
Dalam bukunya, Ibnu Sina dengan benar menggambarkan anatomi mata beserta deskripsi kondisi mata seperti katarak. Di bagian halaman lain dalam bukunya, Ibnu Sina menyampaikan bahwa penyakit TBC itu menular. Di bidang psikologi, Ibnu Sina  menggambarkan beberapa gangguan kejiwaan termasuk yang disebut gangguan cinta, yang beliau anggap sebagai gangguan obsesif yang menyerupai depresi berat. Beliau menggambarkan seorang pasien laki-laki yang lemah dengan demam. Jika laki-laki yang lemah tersebut menjangkau orang yang dicintainya, dia dengan cepat mendapatkan kembali kesehatan dan kekuatannya. Bab lain dalam Kanun membahas neuroanatomi fungsional tulang belakang termasuk struktur tulang belakang dan berbagai bagian tulang belakang dan biomekaniknya. Ibnu Sina juga berkontribusi terhadap pengobatan perinatal, termasuk mengikat bayi, tempat tidur mereka, mandi dan makan serta penyebab cacat (Ibn Sina (Avicenna): The Prince Of Physicians, no date).

Sisa Hidup Ibnu Sina

Semakin lama kekacauan politik dan perjalanan Ibnu Sina yang panjang menyebabkan kesehatan Ibnu Sina memburuk. Disisa hidup Ibnu Sina menghabiskan waktunya untuk urusan negara dan menulis. Beliau mengalami sakit pada bagian perut nya (usus besar) yang tidak dapat disembuhkan. Beberapa sumber menyampaikan bahwa kematian Ibnu Sina akibat bahan campuran yang ditambahkan orang lain ke obat untuk mengatasi kolik yang diderita Ibnu Sina. Wallahu a‘lam. Ibnu Sina wafat pada bulan Ramadhan diusia 58 tahun (428 H / 1037M) dan dimakamkan di Hamadan, Iran. Beliau meninggal dunia setelah banyak berkontribusi pada khazanah ilmiah umat manusia, dan nama serta kontribusi beliau akan selamanya diingat, terutama di bidang kedokteran (Nurdyansa, 2017). 


Gambar 4 : Makan Ibnu Sina di Iran

Daftar Pustaka

Amr, S. S. and Tbakhi, A. (2007). ‘Ibn Sina (Avicenna): The Prince Of Physicians. Annals of Saudi Medicine. 27(2). 134-135.

Basori, K. (2018). Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Cempaka Putih.

Flannery, M. Avicenna . Biography, Books, & Facts . Britannica (no date). Tersedia di: https://www.britannica.com/biography/Avicenna (diakses: 29 Oktober 2022).

Masood, E. (2009). Ilmuwan-ilmuwan Muslim. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Muannatsy, A. S. (2007). Kalam Cinta dari Tuhan. Jakarta: Republika.

Nasser, M., Tibi, A. & Savage-Smith, E. (2009) ‘Ibn Sina’s Canon of Medicine: 11th century rules for assessing the effects of drugs’. Journal of the Royal Society of Medicine. 102(2). 78.

Nurdyansa. 2017. Biografiku. Tersedia di: https://www.biografiku.com/biografi-ibnu-sina/ (diakses: 29 Oktober 2022).

Rivzi, S. H. Avicenna (Ibn Sina) .Internet Encyclopedia of Philosophy (no date). Tersedia di: https://iep.utm.edu/avicenna/ (diakses: 29 Oktober 2022).

Komentar